Not Sent From My Blackberry

Tidak. Tulisan ini tidak dikirim menggunakan perangkat bernama Blackberry. Sederhana saja. Karena penulisnya tidak memiliki sebuah BB. Lain halnya dengan ribuan  warga Jakarta yang mungkin sudah memiliki benda impian mereka sejak kecil ini (lebayyy…). Tapi, rasa-rasanya, kalau melihat senyum lebar di wajah warga ibukota di Foodcourt pada saat bertukar pesan melalui gadget anyar tersebut, terlihat sebuah senyum penuh kepuasaan akan memiliki sebuah Blackberry. Akhirnya! Mungkin itulah yang mereka katakan saat berhasil memperoleh sebuah blackberry. Tapi, tidak sedikit, terlihat juga muka-muka penuh kebingungan dan kegagapan pada saat mengoperasikan sang BB. Maklum, belum biasa mengetik pake keypad QWERY.Eh, QWERTY.

Continue reading

Tentang Alay

Alay sebagai sebuah bentuk identitas tidak memiliki definisi maupun batasan yang jelas. Wong asal muasal istilahnya masih diperdebatkan dan siapa maupun kapan alay itu ramai digunakan sebagai istilah juga sangat buram. Yang jelas, kata alay itu diberikan, bukan dipilih oleh mereka yang kita anggap berbeda itu. Penulis pun pernah menggunakan istilah lain untuk memanggil mereka: bocah kretek, gadis gangster,  akamsi, bahkan umay.  Data tentang Alay pun hanya ditemukan di dunia maya, yang sama sekali tidak objektif, valid, dan tidak bisa diandalkan.

Karena itu, bisa disimpulkan, bahwa pembahasan soal alay yang ada sejauh ini murni karena masalah interaksi yang tidak seimbang. Dalam interaksi yang tidak seimbang, kita sebenarnya hanya menebak-nebak atau berasumsi tentang seseorang atau sebuah kelompok. Ada banyak informasi yang tidak sampai dengan utuh kepada kita. Atau mungkin karena kita tidak mau tahu lebih banyak tentang mereka?

Kata alay itu sendiri menjadi sebuah stereotip yang kita sematkan kepada sekelompok orang.Stereotip selalu erat kaitannya dengan prasangka dan sifat-sifat buruk yang belum tentu terbukti kebenarannya (Sunarto.2004:156). Stereotip seringkali berbicara soal kecenderungan dan bersifat menyederhanakan karakter atau sifat dari kelompok yang bersangkutan. Hal tersebut kita lakukan tiap saat. Entah itu berbicara soal senior di sekolah, jurusan lain di kampus, ataupun soal masyarakat di benua lain. Ini tidak berbeda ketika kita menggunjingkan alay. Stereotip itu senantiasa kita reproduksi. Baik melalui media, interaksi kita dengan orang lain, dan terkadang dalam literatur lain yang menjadi catatan sejarah. Berbagai perbincangan soal alay ini sifatnya serendah gosip, karena hanya diucapkan tanpa ada usaha untuk melakukan klarifikasi atau melakukan pembuktian terbalik.

Continue reading