The Slow Movement

Dunia yang skizofrenik. Begitulah saya terkadang memandang tempat tinggal saya yang sementara ini. ?Batasan antara orisinil dan palsu, nyata dan abstrak, sudah begitu kabur. Sebuah fakta yang baru saja saya yakini kebenarannya bahkan dalam hitungan menit sudah bisa terbantahkan lagi. Ragam informasi yang senantiasa saya peroleh ternyata tidak banyak membantu saya. Sebaliknya, ia justru sering kali menjerumuskan saya ke dalam labirin tanpa pintu keluar. Logika kausalitas sudah tidak bisa membantu saya lagi. Karena setelah semakin saya dalam saya telusuri, saya menyadari bahwa tidak ada awal yang mutlak dan sebuah akibat hanya akan menjadi sebuah sebab bagi peristiwa lainnya. Saya dikadalin oleh teknologi. Siapa yang mau saya salahkan? Graham Bell kah? Internetkah? Mark Zuckerbergkah? Karena pihak yang disalahkan pun akan berdalih …

Sekapur Sirih

 
Deconsumption hanyalah sebuah nama.
Tetapi sebenarnya, ia adalah sebuah ide atau gagasan.
Lebih dari itu. Ia adalah sebuah ajakan.
Ajakan untuk mengkritisi diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Ajakan untuk melihat aspek konsumsi dalam diri dan masyarakat.
Karena bagi mereka yang hidup di wilayah perkotaan dan sekitarnya,konsumsi adalah bagian penting dalam hidup.
Konsumsi bukan hanya persoalan perut, tetapi juga identitas.
Karena konsumsi memang merupakan bagian dari keberadaan.
 
Deconsumption
Konsumerisme, Budaya Massa, Kajian Budaya, dll.
 

Ada apa dengan Konsumsi ?

Kegiatan mengonsumsi barang dan jasa dewasa ini telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Konsumerisme adalah keadaan dimana seseorang atau masyarakat mengonsumsi barang dan jasa dalam jumlah yang sangat tinggi melebihi kebutuhan normal atau kebutuhan cukup. Di dalamnya terdapat perilaku konsumsi yang cenderung boros, tidak sepadan dengan kebutuhan yang cukup , dimana konsumsi mendukung sebuah lifestyle, dan pembelian barang dan jasa seolah hanya dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan gengsi, prestise dan aktualisasi diri ketimbang kebutuhan yang sebenarnya. Konsumsi menjadi sesuatu yang didasari oleh Wants dan bukan lagi Needs.