Kapitalisme Hijau

Oleh:One Herwantoko
Menurut Arief Budiman, kehadiran manusia di dunia ini seakan retak dari kesatuannya dengan alam (lingkungan). Hal ini berbeda dengan hewan yang sejak dilahirkan memiliki insting untuk bersatu dengan alam. Seperti seekor itik yang secara insting telah tahu bahwa dirinya dapat berenang dan sebagainya.
Menurut Nietzsche pun, manusia adalah das nicht festgestellte tier yang artinya binatang yang tidak diterapkan bentuknya. Alam telah mempersiapkan definisi rinci pada setiap hewan sehingga dapat bersatu dengannya. Misalnya seperti itik tadi yang sejak lahir telah dibekali insting bahwa ia dapat berenang. Tapi definisi rinci ini tidak diberikan alam kepada manusia. Alam memberikan kemungkinan yang terbuka kepada manusia untuk mengembangkan dirinya. Manusia harus terus berusaha sendiri untuk mencari eksistensinya dalam hubungan dengan alam. Manusia seakan-akan dibengkalaikan …

Angka dan Kata

Harian Kompas pada hari Jumat, 1 Mei, menyertakan sisipan yang membahas isu konsumerisme. Tidak tanggung-tanggung, harian tersebut meluangkan 4 halaman penuh untuk membahas isu konsumerisme. Apakah ini hanya suatu kebetulan? (Semua data diambil dari Kompas, Fokus, Edisi 1 Mei 2009;Tak ada krisis untuk Konsumtifisme) Diangkatnya isu budaya konsumerisme menjadi suatu pertanda bahwa masalah tersebut memang nyata hadir di tengah-tengah kita dan bukan hanya sebuah isu yang mengemuka di dalam kepala segelintir orang yang kebetulan hidupnya pas-pasan dan tidak bisa berfoya-foya dalam menghabiskan uangnya. Tidak.
 
Pembahasan oleh harian Kompas ini menunjukkan bahwa budaya konsumerisme merupakan suatu fenomena yang nyata sifatnya dan dialami oleh banyak orang dengan dampak yang juga luas cakupannya. Data yang ditampilkan diantaranya adalah sebagai berikut:
 
70.000 pasang sepatu tersedia …

Review Buku: Saya Berbelanja, Maka Saya Ada

Isu konsumerisme tidaklah terlalu seksi di mata para penerbit Indonesia. Buku yang setidaknya mengandung kata konsumen mungkin hanya buku-buku perilaku konsumen yang mengajarkan para manajer dan tenaga pemasaran tentang kiat-kiat menjaring konsumen untuk mempertebal kantong mereka. Sementara buku yang membongkar isu konsumerisme, dunia periklanan, atau marketing tidak bisa ditemukan di pasaran meskipun sebenarnya cukup didambakan kehadirannya. Penantian panjang tersebut kini akhirnya berakhir dengan kehadiran buku Saya Berbelanja, Maka Saya Ada karya Haryanto Soedjatmiko.