oleh Farhanah Faridz
Astral Berjamaah ke New York City
“You know you love me. Xoxo, GossipGirl”
Tagline di atas mungkin sudah tidak asing bagi para remaja kita, khususnya remaja Jakarta. Buat yang nggak tahu atau nggak mau tahu, Gossip Girl ini salah satu serial Amerika Serikat yang sangat populer sejak premiernya di tahun 2007. Ceritanya nggak jauh-jauh dari kehidupan anak muda di Upper East Side-nya Manhattan Si Kota Apel Besar. Sebenarnya daerah ini juga sudah populer buat orang-orang yang sudah terlebih dahulu mantengin serial Sex and The City dan Ugly Betty. Sementara Sex and The City berputar pada kehidupan para wanita lajang di usia tiga puluh tahunan dan Ugly Betty mendongengkan hidup si Betty yang dianggap buruk rupa terkait gaya pakaiannya, Gossip Girl …
Deconsumption. ah,masa sih?
Segala sesuatu seputar konsumerisme, budaya massa, dan kajian budaya. Dengan cara tersendiri.
Living in America (2) : TV Series
Macet toh, ga enak toh?
Udah tau macet kok malah mbeli mobil mbaru?
Akhir akhir ini masyarakat Jakarta dihadapkan dengan suatu berita yang tidak baru, yakni soal keadaan macet total yang sudah membayangi Jakarta. Hal ini mendekati prediksi akan terjadinya kelumpuhan pada tahun 2011. Ini berarti bahwa jika tidak ada perubahan dalam kondisi sarana – prasarana transportasi dan juga perilaku mobilitas warga, maka ketika keluar dari pintu rumah, warga Jakarta sudah langsung dihadapi pada kemacetan. Kemacetan itu sendiri bukan satu-satunya permasalahan yang dirundung oleh masyarakat Jakarta, tetapi juga masalah seperti kecelakaan dan kerugian yang diderita dalam kehidupan berlalu –lintas sehari – hari dan pengaruh pada kesehatan jiwa warganya. Belum lagi jika dihitung dalam bentuk kerugian finansial yang mencapai miliaran rupiah itu. Alamaaakkk…
Living in America (1)
Seri I. Shallow Jakarta
Youth culture, atau subkultur anak muda, senantiasa menarik untuk dibahas. Lebih tepatnya, untuk diolok-olok. Tapi tunggu dulu, dibalik suatu olokan senantiasa tersimpan sebuah kenyataan yang perlu dicari keabsahannya. Terlebih, kita akan berbicara tentang fenomena budaya anak muda Jakarta yang sudah sering dibahas dari zaman Ali Topan, Anak Menteng, AGJ dan terakhir, Alay.
Pada kesempatan ini, seperti penulis-penulis lain yang mengupas hal serupa, kami ingin mengambil sudut pandang yang berbeda. Kritis tentu, dan mungkin akan mengandung sarkasme berlebih. Tetapi kita tidak mau berlaku sok suci. Tulisan ini memang dibuat untuk mengkritisi sesuatu yang sering dibahas pada saat kita ngerumpi sambil menyalakan Marlboro Black Menthol. Berbeda pula dari kebanyakan tulisan pada zaman ini yang memberi kebebasan interpretasi dan mengizinkan pembaca …
