Wiken Tanpa ke Mall !!

Bukan cerita baru bahwa kita (Deconsumption) gemar mencibir mall. Gedung yang rasanya mirip dengan fungsi kandang untuk sebuah hamster (apa hayoo persamaannya ?) ini sudah sering menjadi sasaran kritik kita. 
Lalu, dari segi fungsi rekreasi, apa yang kira-kira bisa menjadi alternatif bagi warga kota-kota besar? 
Nah, pertanyaan tersebut terjawab sudah. Saat Deconsumption masih saja suka menggerutu, ternyata teman kita di komunitas lain, jauh lebih progresif dan praktis pemikirannya. Mereka membentuk komunitas Wiken Tanpa ke Mall. 
Tanpa ragu, kita merekomendasikan komunitas ini ke temen-temen. Silahkan cek situs mereka di http://wikentanpakemall.multiply.com. Bukan, ini bukan komunitas diskusi kacangan seperti Deconsumption, tetapi mereka memang sekelompok manusia yang memanfaatkan akhir pekan dengan mengunjungi tempat-tempat alternatif nan seru yang mungkin tidak terbayang bagi kata warga pada umumnya.

Nah, itu foto …

Tentang “Alay”

Alay sebagai sebuah bentuk identitas tidak memiliki definisi maupun batasan yang jelas. Wong asal muasal istilahnya masih diperdebatkan dan siapa maupun kapan alay itu ramai digunakan sebagai istilah juga sangat buram. Yang jelas, kata alay itu diberikan, bukan dipilih oleh mereka yang kita anggap berbeda itu. Penulis pun pernah menggunakan istilah lain untuk memanggil mereka: bocah kretek, gadis gangster,  akamsi, bahkan umay.  Data tentang Alay pun hanya ditemukan di dunia maya, yang sama sekali tidak objektif, valid, dan tidak bisa diandalkan.
            Karena itu, bisa disimpulkan, bahwa pembahasan soal alay yang ada sejauh ini murni karena masalah interaksi yang tidak seimbang. Dalam interaksi yang tidak seimbang, kita sebenarnya hanya menebak-nebak atau berasumsi tentang seseorang atau sebuah kelompok. Ada banyak informasi yang …