<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Deconsumption.</title>
	<atom:link href="http://deconsumption.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://deconsumption.org</link>
	<description>Konsumerisme, Budaya Massa, Kajian Budaya, dll</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Aug 2010 04:05:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Living in America (2) : TV Series</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/08/living-in-america-2-tv-series/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/08/living-in-america-2-tv-series/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 04:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[oleh Farhanah Faridz
Astral Berjamaah ke New York City
	&#8220;You know you love me. Xoxo, GossipGirl&#8221;
Tagline di atas mungkin sudah tidak asing bagi para remaja kita, khususnya remaja Jakarta. Buat yang nggak tahu atau nggak mau tahu, Gossip Girl ini salah satu serial Amerika Serikat yang sangat populer sejak premiernya di tahun 2007. Ceritanya nggak jauh-jauh dari kehidupan anak muda di Upper East Side-nya Manhattan Si Kota Apel Besar. Sebenarnya daerah ini juga sudah populer buat orang-orang yang sudah terlebih dahulu mantengin serial Sex and The City dan Ugly Betty. Sementara Sex and The City berputar pada kehidupan para wanita lajang di usia tiga puluh tahunan dan Ugly Betty mendongengkan hidup si Betty yang dianggap buruk rupa terkait gaya pakaiannya, Gossip Girl [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/08/living-in-america-2-tv-series/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macet toh, ga enak toh?</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/08/macet-toh-ga-enak-toh/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/08/macet-toh-ga-enak-toh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 12:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsumerisme]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Commodity Fettish]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Udah tau macet kok malah mbeli mobil mbaru?

Akhir akhir ini masyarakat Jakarta dihadapkan dengan suatu berita yang tidak baru, yakni soal keadaan macet total yang sudah membayangi Jakarta. Hal ini mendekati prediksi akan terjadinya kelumpuhan pada tahun 2011. Ini berarti bahwa jika tidak ada perubahan dalam kondisi sarana &#8211; prasarana transportasi dan juga perilaku mobilitas warga, maka ketika keluar dari pintu rumah, warga Jakarta sudah langsung dihadapi pada kemacetan. Kemacetan itu sendiri bukan satu-satunya permasalahan yang dirundung oleh masyarakat Jakarta, tetapi juga masalah seperti kecelakaan dan kerugian yang diderita dalam kehidupan berlalu &#8211;lintas sehari &#8211; hari dan pengaruh pada kesehatan jiwa warganya. Belum lagi jika dihitung dalam bentuk kerugian finansial yang mencapai miliaran rupiah itu. Alamaaakkk&#8230;

Peningkatan Kendaraan Bermotor
Data Dinas Perhubungan [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/08/macet-toh-ga-enak-toh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Living in America (1)</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/07/living-in-america-1/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/07/living-in-america-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 02:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Death of Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Y Generation]]></category>
		<category><![CDATA[Youth Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Seri I. Shallow Jakarta
Youth culture, atau subkultur anak muda, senantiasa menarik untuk dibahas. Lebih tepatnya, untuk diolok-olok. Tapi tunggu dulu, dibalik suatu olokan senantiasa tersimpan sebuah kenyataan yang perlu dicari keabsahannya. Terlebih, kita akan berbicara tentang fenomena budaya anak muda Jakarta yang sudah sering dibahas dari zaman Ali Topan, Anak Menteng, AGJ dan terakhir, Alay.
Pada kesempatan ini, seperti penulis-penulis lain yang mengupas hal serupa, kami ingin mengambil sudut pandang yang berbeda. Kritis tentu, dan mungkin akan mengandung sarkasme berlebih. Tetapi kita tidak mau berlaku sok suci. Tulisan ini memang dibuat untuk mengkritisi sesuatu yang sering dibahas pada saat kita ngerumpi sambil menyalakan Marlboro Black Menthol. Berbeda pula dari kebanyakan tulisan pada zaman ini yang memberi kebebasan interpretasi dan mengizinkan pembaca [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/07/living-in-america-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Living in America!</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/06/living-in-america/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/06/living-in-america/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 13:33:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Nyinyir]]></category>
		<category><![CDATA[Pastiche]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca yang budiman, akhir-akhir ini kami sedikit geli(sah) dalam melihat dan membaca perkembangan kota Jakarta, dan manusianya.&#160; Bukan cerita baru memang. Tetapi tetap saja kami merasa ada sesuatu yang perlu kami sampaikan tentang kultur kota yang baru ini. Dengan berbagai alasan dan ulasan, kami merasa bahwa Jakarta sedang menapaki jalan yang sama yang telah dilalui budaya nihil masyarakat Amerika. Budaya pop, budaya massa yang ada di seberang sana sepertinya benar-benar dijiplak habis oleh ibukota. Apa sebenarnya yang kami maksud? Ikuti dalam rangkaian artikel berseri kami. Sebagai menu pembuka, mungkin celoteh di bawah ini dapat menggugah Anda.

Oleh : Afra Suci
&#160;
Jakarta &#8211; New York (PP)
Ketika Jakarta tak jauh berbeda dengan New York
&#160;
Mau ke mana hari ini? Ke SoHo?  Tribeca? Semua ada [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/06/living-in-america/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Tahun Berlumpur</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/06/4-tahun-berlumpur/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/06/4-tahun-berlumpur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 09:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Culture Jam]]></category>
		<category><![CDATA[Nyinyir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[
4 tahun sudah kita ditipu oleh ulah sebuah korporasi besar.
4 tahun sudah rasa keadilan menderita kekalahan.
4 tahun sudah alam dinistakan oleh segelintir orang.
Sekarang, salah satu diantaranya&#160; sudah menjadi orang dengan kekuasaan terbesar ketiga di negeri ini.
Selama 4 tahun tersebut, kita terus mendukung kejayaan anak-anak perusahaannya.
Jadi, sampai kapan kita akan melakukannya?
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/06/4-tahun-berlumpur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mana Senyum Behelnyaa ??</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/06/mana-senyum-behelnyaa/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/06/mana-senyum-behelnyaa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 02:49:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Nyinyir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[
Manis-manis yah senyum anak jaman sekarang?
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Saya, sebagai contoh, menyesal karena baru memasang kawat gigi (atau behel, atau bracket) setelah masuk kuliah. Seandainya mengenakan kawat pada saat SD atau SMP, saya tidak perlu mengeluarkan uang yang cukup besar untuk kontrol rutin ke dokter gigi yang cukup menguras kantong. Orang tua saya pasti akan menanggung sepenuhnya. Lain dengan sekarang. Tapi saya tidak sendirian telat memasang behel. Beberapa artis ternama juga memasang behel pada saat sudah berumur, seperti Sonny Tulung dan Vega. Maklumlah, tuntutan untuk tampil apik di layar kaca. Kalau saya? Gigi gw emang parah Men. Tanya aja temen-temen gw
Nyatanya, penggunaan kawat gigi pada kelompok remaja dan anak-anak memang bertambah. Saya memang tidak memperoleh data yang cukup [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/06/mana-senyum-behelnyaa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zarah pun Dijual</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/05/zarah-pun-dijual/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/05/zarah-pun-dijual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 03:03:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Konsumerisme]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Kritis]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Naomi Klein, Joseph Heath, dan Andrew Potter bercinta. Sementara Mario Teguh hanya diam menonton.
Dalam buku &#8220;The Rebel Sell&#8221; (&#8220;Radikal itu Menjual&#8221;, versi Bahasa Indonesia), Joseph Heath dan Andrew Potter seolah telah memberi jawaban pamungkas atas segala persoalan konsumerisme dan keluarga besarnya. Dengan gamblang, mereka memaparkan &#8220;kemunafikan&#8221; para penggiat konsumerisme dan aktifis kiri yang berkedok topeng moral dan melakukan perlawanan budaya hanya untuk memperoleh status sebagai pemberontak yang bohemian dan &#8220;cool&#8221;. &#160;Yah, saya keren karena saya melawan. Tetapi, senihil itukah upaya yang sering kita galang untuk melakukan perbaikan sistem, mengimbangi neraca keadilan, dan berkata &#8220;tidak&#8221; terhadap otorita kekuasaan? Apakah segala ikhtiar tersebut hanya untuk menaikkan (sebenarnya lebih banyak menurunkan) status sosial dan agar layak disejajarkan dengan legenda seperti Che Guevara [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/05/zarah-pun-dijual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wiken Tanpa ke Mall !!</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/04/wiken-tanpa-ke-mall/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/04/wiken-tanpa-ke-mall/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 08:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Bukan cerita baru bahwa kita (Deconsumption) gemar mencibir mall. Gedung yang rasanya mirip dengan fungsi kandang untuk sebuah hamster (apa hayoo persamaannya ?) ini sudah sering menjadi sasaran kritik kita.&#160;
Lalu, dari segi fungsi rekreasi, apa yang kira-kira bisa menjadi alternatif bagi warga kota-kota besar?&#160;
Nah, pertanyaan tersebut terjawab sudah. Saat Deconsumption masih saja suka menggerutu, ternyata teman kita di komunitas lain, jauh lebih progresif dan praktis pemikirannya. Mereka membentuk komunitas Wiken Tanpa ke Mall.&#160;
Tanpa ragu, kita merekomendasikan komunitas ini ke temen-temen. Silahkan cek situs mereka di http://wikentanpakemall.multiply.com. Bukan, ini bukan komunitas diskusi kacangan seperti Deconsumption, tetapi mereka memang sekelompok manusia yang memanfaatkan akhir pekan dengan mengunjungi tempat-tempat alternatif nan seru yang mungkin tidak terbayang bagi kata warga pada umumnya.

Nah, itu foto [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/04/wiken-tanpa-ke-mall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(E)SUV dan Es Kutub</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/03/suv-dan-es-kutub/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/03/suv-dan-es-kutub/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 07:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Logikanya, dengan kondisi jalanan yang macet bin mampet, konsumen Jakarta yang bijak akan menjatuhkan pilihannya kepada mobil-mobil kecil yang irit bahan bakar. Selain ramah di kantong, city car juga ramah lingkungan karena rata-rata lebih efisien dalam hal konsumsi bahan bakar. &#160;Tetapi, kalau kita berkeliling ibukota, kenapa kita begitu mudah menemui mobil bongsor nan boros yang dikenal dengan istilah SUV? 


SUV adalah singkatan dari Sport Utility Vehicle. Jenis kendaraan ini diwakili produk seperti Honda CRV, Toyota Fortuner, BMW X5, Ford Escape,&#160; Hyundai Santa Fe, Nissan X-Trail, atau Hummer dan Chevrolet Escapade. Umumnya, mereka adalah kendaraan yang &#8220;berotot&#8221;, karena memiliki dimensi lebar dan tinggi yang cukup besar dan memiliki mesin dengan kapasitas di atas 2000 cc. Dengan karakter yang umumnya cenderung garang [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/03/suv-dan-es-kutub/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang &#8220;Alay&#8221;</title>
		<link>http://deconsumption.org/2010/03/tentang-alay/</link>
		<comments>http://deconsumption.org/2010/03/tentang-alay/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 04:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deconsumption.org/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[
Alay sebagai sebuah bentuk identitas tidak memiliki definisi maupun batasan yang jelas. Wong asal muasal istilahnya masih diperdebatkan dan siapa maupun kapan alay itu ramai digunakan sebagai istilah juga sangat buram. Yang jelas, kata alay itu diberikan, bukan dipilih oleh mereka yang kita anggap berbeda itu. Penulis pun pernah menggunakan istilah lain untuk memanggil mereka: bocah kretek, gadis gangster,&#160; akamsi, bahkan umay. &#160;Data tentang Alay pun hanya ditemukan di dunia maya, yang sama sekali tidak objektif, valid, dan tidak bisa diandalkan.
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Karena itu, bisa disimpulkan, bahwa pembahasan soal alay yang ada sejauh ini murni karena masalah interaksi yang tidak seimbang. Dalam interaksi yang tidak seimbang, kita sebenarnya hanya menebak-nebak atau berasumsi tentang seseorang atau sebuah kelompok. Ada banyak informasi yang [...]]]></description>
		<wfw:commentRss>http://deconsumption.org/2010/03/tentang-alay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
