Tindak Lanjut

Ethical consumer adalah sebutan untuk orang yang melakukan pembelian berdasarkan pertimbangan etika-etika tertentu atau dapat dikatakan orang yang menganut paham ethical consumerism. Ethical consumerism memang tergolong konsep yang masih baru, sehingga studi mengenai hal tersebut hingga saat ini masih terus berkembang. Definisi mengenai ethical consumerism sangat bervariasi dari yang mulai samar-samar hingga ke yang lebih spesifik di mana hanya menyangkut kategori tertentu saja seperti misalnya barang-barang fair trade atau organik. Studi-studi terdahulu pada umumnya lebih menekankan pada nilai-nilai lingkungan yang kemudian sempat melahirkan istilah green consumer. Seiring berjalanya waktu isu ethical pun mulai berkembang ke hal-hal lain seperti pekerja anak atau isu sosial lain yang lebih luas.

Menurut Out This World, sebuah jaringan ethical grocery menyebutkan bahwa ethical consumersim adalah suatu konsep yang dipegang oleh konsumen dalam membeli produk dengan pertimbangan nilai etis di mana meliputi lima area yang terkait dengan apa yang disebut sebagai etis, yaitu; healthy eating (penekanan pada produk organik), community development (mendukung pedagang lokal), fair trade (dalam rangka menciptakan kesempatan yang lebih baik bagi negara berkembang), kesejahteraan hewan dan keberlangsungan lingkungan.The Story of Our Stuff

?Tipe-tipe ethical consumerism tersebut sebagai gerakan dalam rangka melakukan perubahan sosial itu terus berkembang dimulai dari tipe ethical consumerism yang negatif, yaitu berupa pemboikotan terhadap suatu produk tertentu. Hingga positive ethical behaviour yang mulai muncul seiring berjalanya waktu, yaitu dalam bentuk kegiatan membeli barang berdasarkan atribut etis. Ethical consumerism juga mulai dikaji pada hal yang lebih luas dalam bentuk consumer action seperti membangun dialog dengan penjual atau melakukan lobi terhadap pemerintah

Negative Purchase Behaviour

Selama bertahun-tahun, bentuk utama dari ethical consumerism adalah ?negative ethical purchase behaviour? atau seringkali disebut boikot. Beberapa boikot diorganisir oleh kelompok kampanye, contohnya boikot yang dilakukan oleh kelompok Ethical Consumer di Inggris dalam gerakan Baby Milk Action yang memboikot produk Nestle pada Bulan Desember 1997 hingga Januari 1998. Beberapa konsumen berusaha untuk menghindari pembelian produk-produk tertentu atau menghindari barang dan jasa yang terkait dengan isu tersebut, seperti animal testing, factory farming atau industri senjata.

Positive Ethical Purchase Behaviour

Di samping negative purchase behavior, muncul pula trend positif dalam usaha untuk membeli barang dengan atribut etika positif. Namun terdapat litan dalam mendefinisikan ?ethical products.? Kriteria yang biasanya digunakan untuk menjadi dasar dalam menentukan ethical products sebagai usaha oleh konsumen dalam melakukan strategi pembelian positif mereka yaitu organic label dan fair trade label.

Latar Belakang

Teori awal yang mendasari gerakan ethical consumerism yaitu paham consumerism. Konsumerisme digunakan oleh beberapa pihak sebagai cara untuk melakukan perubahan sosial berdasarkan teori bahwa perusahaan membuat keputusan atas dasar permintaan konsumen. Namun logika ini terkadang justru terhambat dengan kekuatan besar dari perusahaan besar yang berpengaruh dalam menciptakan permintaan konsumen melalui iklan dan branding. Di sini, kekuatan konsumen mungkin dapat digunakan untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki akuntabilitas terhadap masyrakat melalui peran masyarakat tersebut sebagai konsumen. Salah satu bentuk aksi yang dapat dikatakan menjadi asal mula gerakan ethical consumerism terjadi di Inggris pada awal abad ke-19 dalam bentuk boykot yang dilakukan oleh konsumen terhadap gula, karena industry tersebut terlibat perbudakan. Saat itu pendukung gerakan yang termasuk di antaranya keluarga kerajaan menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh industry gula sangat tidak bisa diterima secara moral.

Prinsip-prinsip dasar

Terkait dengan ethical consumerism, Rob Harisson, seorang praktisi dari ethical consumerism menyebutkan bahwa ethical consumer itu sendiri terkait dengan beberapa prinsip-prinsip dasar yang dapat dituangkan pada perilaku kita sehari-hari yaitu:

1. Consume less.

Berbelanja secara etis harus dibarengi dengan kuantitas yang tepat. Artinya jumlah barang-barang yang dibeli, digunakan dan dibuang harus dikurangi. Hendaknya sebelum berbelanja ada beberapa hal yang harus dipikirkan ulang, seperti, seberapa perlu benda tersebut? Apakah benda tersebut benar-benar bermanfaat? Apa yang terjadi setelah barang tersebut selesai digunakan?

2. Get campaigning

Hal yang perlu diperhatikan di sini yaitu apakah kampanye yang dilakukan benar-benar dibutuhkan untuk memeperoleh satu tujuan tertentu. Kampanye yang dimaksud di sini dapat berupa menandatangani petisi tertentu, menghubungi pejabat daerah, hingga ikut serta dalam demonstratsi atau aksi kampanye lainya yang lebih secara langsung.

3. Shop locally

Saat ini, penjualan lokal terus menurun sementara pusat perkotaan dipenuhi dengan perusahaan waralaba dan supermarket. Berbelanja barang-barang local paling tidak dapat mengurangi penggunaan karbon dalam transportasi serta mendukung komunitas local.

4. Ethical Money

Tidak hanya mengenai bagaimana cara uang tersebut dibelanjakan, namun juga bagaimana uang tersebut disimpan, seperti melalui tabungan, investasi.

5. Recycling and second-hand

Barang yang dibeli tidak harus selalu baru. Dengan menggunakan barang bekas atau hasil daur ulang berarti menyelamatkan sumberdaya-sumberdaya yang berharga dan mengurangi kerusakan pada area-area tertentu.

Leave a Comment